Wawancara Efektif

***

Pada saat melakukan wawancara, sering ditemui berbagai masalah yang sedikit banyak menggagu proses pengumpulan informasi. Sekali waktu kita tidak dapat membatasi fokus sehingga pembicaraan melebar kemana-mana.

Kadang, narasumber juga enggan berbicara secara terus terang kepada wartan sehingga informasi yang kita dapatkan kurang mendalam. Maka dari itu kita butuh membuat wawancara kita lebih efektif. Dalam wawancara yang efektif ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1. Persiapkanlah perlengkapan wajib seperti kamera, recorder, alat tulis cadangan untuk menghindari gangguan yang sangat teknis seperti kehabisan tinta atau kertas.

2. Datanglah tepat waktu. Kita membutuhkan narasumber jadi jangan memberikan kesan negatif kepada narasumber pada pertemuan pertama.

3. Tulislah waktu (hari, tanggal, jam), tempat seandainya narasumber didampingi oleh seseorang dalam wawancaranya maka catatlah nama dan nomor teip orang tersebut.

4. Saat memulai wawancara, ciptakanlah suasana yang nyaman dan menyenangkan dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan ringan. Ingat, jangan dulu mengeluarkan buku catatan apalagi alat perekam. Setelah beberapa saat mintalah izin untuk merekam dengan alasan agar tidak salah kutip atau akurasi.

5. Tulislah informasi yang penting saja. Jika ada perkataan yang menarik kutiplah, minta dengan sopan untuk mengulanginya.

6. Bersikaplah tenang dengan penuh perhatian pada tiap perkataan yang disampaikan narasumber.

7. Buatlah dia berbicara banyak tanpa kita banyak bicara akan tetapi saat pembicaraan mulai melenceng atau meluas, kembalikan pembicaraan pada alur semula.

8. Hindari sikap seakan-akan kita memperlihatkan diri lebih mengetahui tentang suatu pokok permasalahan. Karena kita adalah wartawan yang memerlukan bantuan berupa informasi, bukan guru.

9. Buatlah outline pertanyaan sebelum melakukan wawancara. Cara ini dilakukan untuk menghindari informasi penting yang lupa ditanyakan.

10. Usahakan mewawancarai narasumber di tempat yang tidak dapat diganggu orang lain. Jika narasumber anda seorang eksekutif maka jauhkan dari kantor agar tidak terjadi interupsi yang tidak kita inginkan.

11. Di akhir wawancara tanyakanlah kepada narasumber apakah masih ada yang ingin ditambahkan. Biasanya pada saat ini muncul informasi-informasi menarik karena dirasa susana wawancara cukup menyenangkan.

12. Mintalah kesediaannya untuk menerima telepon seandainya ada hal-hal yang terlupa.


Terakhir, Mintalah kartu nama untuk mengetahui ejaan nama dan jabatannya, nomor telepon. Ataupun kalau tidak ada mintalah dia manulis sendiri di buku catatan kita.

Penulisan Lead/Teras Berita


***

“Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di kota Semarang, komunitas Geodet Berbagi mengadakan sebuah kegiatan bakti pendidikan bertajuk Geodet Mengajar di SD N 1 Jabungan, kelurahan Kramas, kecamatan Banyumanik, pada hari sabtu 26 April 2014. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 130 murid mulai dari kelas I sampai VI. Seluruh murid sangat antusias mengikuti serangkaian acara dari mulai pukul 08.00 sampai selesai pukul 10.30 WIB.”

Dalam kalimat teras (lead) berita diatas, dapat dengan mudah diketahui oleh pembaca bahwa dalam satu paragraph (sekali baca), ia sudah dapat mengetahui who, when, where, why, what dan how, unsur pokok dalam penulisan jurnalisme.

What adalah apa nama/jenis/kategori/tajuk kegiatan tersebut. Apa disini ialah kegiatan bakti pendidikan yang bertajuk Geodet Mengajar.

Who dalam berita diatas adalah siapa yang melakukan atau menyelenggarakan kegiatan tersebut, jadi who disini adalah Komunitas Geodet Berbagi. Why dalam berita diatas adalah apa alasan yang melatar belakangi acara tersebut, yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan di kota semarang.

Where adalah dimana lokasi kegiatan tersebut berlangsung, yaitu di SD N 1 Jabungan, kel Kramas, kec Banyumanik, kota Semarang. When adalah kapan kegiatan tersebut berlangsung. Mencakup tanggal dan waktu kejadian, yaitu pada hari sabtu, 26 April 2014.

How atau bagaimana menerangkan secara garis besar keberlangsungan kegiatan tersebut. Seperti tingkat antusiasme, waktu/jam berlangsungnya acara, hingga data – data penunjang lainnya, seperti jumlah murid, dll.

Konsep piramida terbalik berlaku disini, dimana berita paling berbobot ditaruh dalam satu kalimat utama/pembuka/teras/lead. Semakin ke bawah semakin mengandung informasi yang kurang penting.
Semoga bermanfaat.




Melunasi Janji Kemerdekaan

Sore tadi (minggu, 4 mei 2014) aku mendapat beberapa hal menarik di Gramedia Pemuda, kota Semarang. Biasanya aku kesana untuk sekedar membaca dan mengAutiskan diri dengan membaca sinopsis setiap buku yang bercover menarik.

Namun, kali ini aku kesana bukan karena hal monoton itu. Tetapi karena ada sebuah acara bedah buku yang diselenggarakan oleh komunitas Turun Tangan Semarang dengan tajuk safari buku. Buku yang dimaksud adalah buku “Melunasi Janji Kemerdekaan”.


Pembicara ada tiga orang. Pertama adalah mbak Dian, seorang dosen USM dan juga salah seorang relawan Turun Tangan Semarang. Kedua ada bapak Sapto. Seorang lelaki uzur yang berprofesi sebagai seorang wartawan senior. Ketiga. Tentu ini yang membuat kita terus menunggu. Muhammad Husnil. Penulis buku tersebut.

Buku karangan Muhammad Husnil tersebut merupakan sebuah buku biografi seorang tokoh muda Indonesia. Seorang rektor termuda di Indonesia. Ia menempati 500 tokoh muslim berpengaruh di dunia, versi sebuah studi riset berbasis di negara Yordania. Ia penggagas sebuah gerakan Indonesia Mengajar. Kemudian komunitas Turun Tangan, yang bertagline, daripada urun angan dan lipat tangan, kita lebih memilih turun tangan.

Yahhh, belum disebutin. Hehe. Tentu kalian sudah hampir mengetahui sosok lelaki kelahiran kuningan dan tumbuh kembang dikota Jogja tersebut. Ia bernama lengkap Anies Rasyid Baswedan. Cucu AR Baswedan, pahlawan kemerdekaan pendiri Persatuan Arab Indonesia, organisasi antar orang keturunan arab dengan satu tujuan, proklamasi kemerdekaan Indonesia.

***
Dari tiga kata dalam judul buku tersebut, sudah mampu kita terka apa maksud dari seorang emhusnil –sapaan akrab– mengarang buku biografi tersebut. Ia ingin menyampaikan beberapa fakta-fakta menarik dari diri seorang Anies Baswedan. Dan yang paling membuat saya teringat-ingat sampai saya menulis artikel ini adalah perihal esensi dari sebuah kemerdekaan.

Anies adalah seorang yang secara pendidikan telah mendapatkan segalanya hingga gelar Doktor pun telah ia pegang. Selama ini ia merasa nyaman, tenteram dan aman untuk beraktifitas. Ia juga merasa mendapatkan berbagai kecukupan, bahkan bisa dikatakan telah mendapatkan berbagai kesejahteraan baik jasmani maupun rohani.

Kemudian ia berfikir. Apakah yang telah ia dapatkan, dirasakan pula oleh semua orang dipelosok nusantara?. Tidak perlu jauh-jauh. Bahkan, mereka yang dekat dengan Anies (tetangga di kota Jogja) tak luput dari kekurangan keadaan. Seolah janji kemerdekaan berupa terlindungi, tercerdaskan dan tersejahterakan oleh negara hanya sebuah pepesan kosong. Tak dirasakan oleh segenap rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, Anies mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk bahu menbahu bersama, turun tangan langsung untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan yang bermunculan bak jamur dimusim dingin. Dan melupakan cara lama yang hanya sekedar urun angan dan lipat tangan. Sudah saatnya turun tangan menyelesaikan yang sudah seharusnya kita selesaikan. Ya, melalui tindakan nyata.


Karena Indonesia bukan Anies. Anies juga tak akan mampu untuk menyelesaikannya sendiri. Jika ia hendak menyelesaikannya sendiri, berarti ia bagian dari masalah. Namun itu tak dilakukan oleh penggemar serial super hero The Avenger tersebut. Ia terus berusaha mengajak semua orang yang masih memiliki kepedulian dan optimis dengan nasib bangsa untuk sama-sama bekerja keras memperbaiki bangsa. Semua dimulai dari hal kecil dan diri sendiri.

***

Yang telah berani untuk berjanji tentu harus berani pula menepati. Terlindungi, tercerdaskan dan tersejahterakan adalah hak tiap warga negara Indonesia. Dan yang memiliki kewajiban untuk melakukannya bukan-lah pemerintah saja, namun setiap warga negara yang masih memiliki kepedulian, terlebih mereka yang telah merasa terlindungi, tercerdaskan dan tersejahterakan.

Salam dari kawan Relawan Turun Tangan kota Semarang, Jawa Tengah. Salam.

 
biz.